Tagged in: Harga BBM Melonjak

Kenaikan-Harga-BBM-Semakin-Menghantui

Kenaikan Harga BBM Semakin Menghantui

Kenaikan Harga Minyak Bumi – saat ini tengah berada dalam posisi tertinggi dalam lebih dari sebulan yang lalu seiring dengan meningkatnya gangguan pasokan minyak mentah dari Iran dan Venezuela. Tidak hanya itu saja bahkan gangguan dari persediaan minyak bumi di Amerika Serikat juga semakin menurun.

Harga dari minyak bumi mentah naik sebanyak 63 sen per barel menjadi USD 77.77 per barelnya. Sedangkan dari Amerika harga minyak mentah ditutup 74 sen lebih tinggi keposisi USD 70.25 per barel.

Lonjakan dari kenaikan harga minyak bumi ini begitu terasa hingga sampai pada BBM (Bahan Bakar Minyak) yang dikatakan juga kian meningkat. Seperti yang dilansir dari PT. Pertamina (Persero) yang dimana kembali menaikkan harga dari bahan bakar non subsidi jenis pertamax series dan Dex Series hingga 600,- rupiah per liternya mulai dari 1 Juli 2018.

Dari direktur berjangka mizuho yakni Bob Yawger menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang bagus dimana akan membuat orang-orang akan tertarik dengan harga dari minyak bumi ini.

Yawger juga menambahkan bahwa besarnya premi Brent untuk WTI kemungkinan akan mendorong ekspor minyak mentah di Amerika Serikat nantinya. Hal ini dikarenakan bahwa minyak mentah brent telah meningkat hampir 10 persen selama dua minggu terakhir ini sebab persepsi yang tersebar luas bahwa pasar minyak global semakin ketat dan dapat menjadi pendek dalam beberapa bulan kedepan seiring adanya sanki di Amerika Serikat yang membatasi ekspor minyah mentah dari Iran.

Selain penurunan dari peristiwa geopolitik ,bencana alam juga berdampak besar pada pasaran global minyak dunia ,hal ini terkait dengan badai dilepas pantai pada Afrika Tenggara yang tengah menuju ke Teluk Meksiko.

Penurunan ekspor minyak bumi dari Iran memang sudah terlihat jelas jauh sebelum sanksi terkait minyak Bumi AS terganggu sejak mulai berlaku pada November. Hal ini juga memupuni bahwa Taruhan Basket Sbobet semakin banyak diminati setiap kalangan masyarakat.

Berdasarkan dari Analis bank Swiss UBS ,Giovanni Staunovo di Zurich. Ekspor minyak mentah Iran kemungkinan akan turun dengan posisi 2 juta barel setiap harinya ,dan jika hal tersebut dibandingkan dengan April lalu yang mencapai 3,1 juta barel per harinya tentu ini merupakan kenaikan yang cukup drastis.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries atau disingkat OPEC adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk menegosiasikan seputar masalah mengenai produksi ,harga dan hak konsesi minyak bumi dengan perusahaan minyak di dunia.

Mereka mengatakan bahwa dimana Iran menjadi produsen terbesar ketiga pengekspor minyak bumi terbesr akan membahas kemungkinan kompensasi penurunan harga tiba-tiba dalam pasokan Iran setelah adanya sanksi yang dimulai pada November mendatang.

Bukan hanya negara Iran saja yang akan mengalami krisis minyak bumi ,bahkan dikatakan Venezuela yang menjadi anggota OPEC juga akan merosot tajam ,setidaknya berkurang hingga separuh lebih dalam beberapa bulan terakhir ini. Pasar memangkas keuntungan sedikit setelah penyedia informasi Genscape mengatakan bahwa persediaan minyak bumi di pusat pengiriman di Cushing ,Oklahoma telah meningkat hingga 101.3433 barel sejak 24 Agustus lalu.

Tidak hanya itu saja bahkan Badan Energi Internasional (IEA) telah memperingatkan tentang pengetatan pasar menjelang akhir tahun karena penurunan pasokan di negara OPEC seperti Iran dan Venezuela dikombinasikan dengan permintaan yang kuat terutama di Asia.

Dampak Ekspor Iran Menurun

Dampak dari menurunnya ekspor pasokan minyak bumi dari Iran terlihat dari beberapa faktor salah satunya adalah BBM (bahan bakar minyak)  diseluruh dunia bahkan di Indonesia. Menguatnya harga dari minyak bumi lebih dari satu persen dengan harga minyak brent tercatat merupakan kenaikan tertinggi dalam tujuh minggu terakhir.

Hal ini semakin didorong karena penarikan stok minyak mentah Amerika Serikat dan bahan bakar minyak jenis bensin telah dikurangi ekspor dari minyak mentah Iran sebagai sanksi dari AS.

Khususnya di Indonesia anda bisa merasakan dampak dari ekspor minyak bumi Iran yang kian menurun ini ,hal ini disampaikan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina yakni Adiatma Sardjito mengemukakan harga minyak dunia terus naik hingga menyentuk 75 dollar per barelnya sehingga ini juga berdampak dalam kenaikan harga dari BBM.

Dimulai pada januari 2018 kenaikan harga dari bahan bakar minyak (BBM) tersaebut mulai dari 150 rupiah sampai 200 rupiah ,kemudian terus melonjak naik hingga saat ini sebesar 600 rupiah per liternya.

Patokan dari kenaikan harga BBM ini berdasarkan dari bahan baku sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa bahan baku dari bahan bakar ini merupakan minyak bumi itu sendiri jadi tidak heran apabila kenaikan dari harga bbm dapat melonjak drastis seiring dengan semakin berkurangnya pemasokan minyak dari Iran serta beberapa negara OPEC lainnya. Adapun kenaikan dari harga bbm yang tercatat hingga saat ini.

  • Pertalite : dari 7.200,- rupiah kini menjadi 7.800,- rupiah.
  • Pertamax : dari 8.400,- rupiah kini menjadi 8.900,- rupiah.
  • Pertamax Turbo : dari 9.350 kini menjadi 10.100,- rupiah.

Dari kenaikan harga bbm ini banyak sekali dari kalangan yang semakin berpindah menggunakan bahan bakar minyak jenis Premium ,yang tercatat memiliki harga lebih murah dibanding yang lainnya.